|
Konseling merupakan aspek yang penting dalam implementasi program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. Konselor akan membantu perempuan, ibu hamil, dan pasangannya untuk memperoleh pengertian yang benar tentang HIV/AIDS, bagaimana mencegah penularan, penanganan dan memberikan dukungan moril bagi Odha dan lingkungannya. Seorang konselor berupaya melakukan komunikasi yang baik untuk menanggulangi masalah yang dihadapi perempuan, ibu hamil, dan pasangannya. Melalui konseling, klien akan dibimbing untuk membuat keputusan sendiri untuk mengubah perilaku yang baru dan mempertahankannya.
Terdapat beberapa jenis konseling dalam hubungannya dengan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi, antara lain: 1. Konseling sebelum dan sesudah tes HIV Konseling sebelum tes (pra-test) dilakukan untuk mempersiapkan mental perempuan, ibu hamil, dan pasangannya ketika ingin menjalani tes HIV secara sukarela. Konselor menggali faktor risiko klien / alasan untuk menjalani tes, memberikan pengertian tentang maksud hasil tes positif / negatif dan arti masa jendela, memberikan rasa tenang bagi klien. Sedangkan konseling sesudah tes (post-test) bertujuan untuk memberitahukan hasil tes kepada klien. Konselor memberikan penjelasan tentang hasil tes yang dilihat bersama dengan klien. Konselor menjelaskan tentang perlu atau tidaknya dilakukan tes ulang. Jika hasil tes HIV negatif, konselor menghimbau dan mendukung klien agar bisa tetap mempertahankan perilakunya agar tetap HIV negatif. Kepada yang hasilnya HIV positif, konselor memberikan dukungan mental agar klien tidak putus asa dan tetap optimis menjalani kehidupan, serta menjelaskan klien tentang upaya-upaya layanan dukungan untuk Odha yang bisa dijalaninya. 2. Konseling ARV Konseling ARV diperlukan oleh ibu hamil HIV positif untuk memahami tentang manfaat dan bagaimana cara penggunaan ARV selama kehamilan untuk mengurangi risiko penularan HIV ke bayi. Konseling ARV juga diperlukan oleh ibu HIV positif pasca melahirkan (jika jumlah sel CD4-nya rendah) untuk tujuan pengobatan jangka panjang. Konselor akan mengingatkan tentang pentingnya aspek kepatuhan minum obat (adherence), informasi tentang efek samping, serta pentingnya mengontrol efektivitas pengobatan dan kondisi kesehatan lainnya ke dokter. 3. Konseling Kehamilan Konseling kehamilan diperlukan oleh seorang perempuan yang sedang mengalami kehamilan yang tidak direncanakan ataupun masalah-masalah seputar kehamilan yang timbul karena isu ras, agama, gender, status perkawinan, umur, fisik dan mental, ataupun orientasi seksual. Tujuan konseling ini adalah untuk membantu ibu hamil dalam membuat keputusan tepat dan bijak tentang hal terbaik untuk dirinya dan calon bayinya. Krisis di masa kehamilan ini tidak hanya berdampak pada ibu hamil saja, dengan demikian diperlukan juga konseling untuk suami, pasangan, ataupun anggota keluarga dan teman-teman ibu hamil. 4. Konseling Pemberian Makanan Bayi Konseling pemberian makanan bayi diperlukan oleh seorang ibu hamil ataupun ibu pasca melahirkan untuk memahami cara yang tepat untuk memberikan makanan kepada bayinya. Bagi ibu hamil HIV positif, konseling pemberian makanan bayi diperlukan untuk memberikan penjelasan tentang cara terbaik pemberian ASI eksklusif kepada bayi untuk mengurangi risiko penularan HIV ke bayi (jika pemberian susu formula tidak memenuhi persyaratan AFASS dari WHO), seperti berapa lama waktu pemberian ASI eksklusif, kapan waktu terbaik untuk menghentikan pemberian ASI eksklusif dan bagaimana caranya ataupun informasi agar tidak sama sekali memberikan makanan campuran kepada bayi (ASI dan makanan lain). Konseling pemberian makanan bayi juga diperlukan untuk memberikan penjelasan tentang cara terbaik dalam memberikan susu formula, jika ibu hamil HIV positif memilih untuk memberikan susu formula kepada bayinya. 5. Konseling Psikologis dan Sosial Konseling psikologis dan sosial diperlukan oleh seseorang yang mengetahui dirinya telah terinfeksi HIV untuk meningkatkan semangatnya agar tidak putus asa dan tetap optimis menjalani kehidupan, serta membantunya untuk mengatasi perlakuan diskriminatif masyarakat terhadap Odha. Dengan mendapatkan konseling psikososial ini, diharapkan Odha senantiasa berfikiran positif untuk menjaga kesehatan dirinya dan tidak menularkan HIV dari dirinya ke orang lain. |