|
Ada dua faktor utama untuk menjelaskan faktor risiko penularan HIV dari ibu ke bayi: - Faktor ibu dan bayi
- Faktor cara penularan
FAKTOR IBU Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi adalah kadar HIV (viral load) di darah ibu pada menjelang ataupun saat persalinan dan kadar HIV di air susu ibu ketika ibu menyusui bayinya. Umumnya, satu atau dua minggu setelah seseorang terinfeksi HIV, kadar HIV akan cepat sekali bertambah di tubuh seseorang (Diagram 1). Kadar HIV tertinggi sebesar 10 juta kopi/ml darah terjadi 3-6 minggu setelah terinfeksi (disebut infeksi primer). Setelah beberapa minggu, biasanya kadar HIV mulai berkurang dan relatif terus rendah selama beberapa tahun pada periode tanpa gejala (asimptomatik). Ketika memasuki masa stadium AIDS (dimana tanda-tanda gejala AIDS mulai muncul), kadar HIV kembali meningkat. Cukup banyak orang dengan HIV/AIDS (Odha) yang kadar HIV-nya sangat rendah sehingga menjadi sulit untuk dideteksi di dalam darah (kurang dari 100 kopi/ml). Umumnya, kondisi ini terjadi pada Odha yang telah minum obat antiretroviral secara teratur dengan benar. Pada kebanyakan Odha, kadar HIV berkisar antara 10.000 – 100.000 kopi/ml. Risiko penularan HIV sangat kecil jika kadar HIV rendah (kurang dari 1.000 kopi/ml), sementara jika kadar HIV di atas 100.000 kopi/ml risiko penularan HIV dari ibu ke bayi menjadi tinggi. Risiko penularan akan lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi pada menjelang ataupun saat persalinan. Status kesehatan dan gizi ibu juga mempengaruhi risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Ibu dengan sel CD4 yang rendah (menurunnya sistem pertahanan tubuh) mempunyai risiko penularan yang lebih besar, terlebih jika jumlah sel CD4 kurang dari 200. Ada hubungan langsung antara CD4 dan kadar HIV karena semakin tinggi kadar HIV semakin rendah CD4 di tubuh Odha. Jika ibu memiliki berat badan yang rendah selama kehamilan serta kekurangan vitamin dan mineral, maka risiko terkena berbagai penyakit infeksi juga meningkat. Biasanya, jika ibu menderita infeksi menular seksual (IMS) atau infeksi reproduksi lainnya maka kadar HIV akan meningkat, sehingga meningkatkan pula risiko penularan HIV ke bayi. Malaria juga bisa meningkatkan risiko penularan, karena parasit malaria merusak plasenta sehingga memudahkan HIV menembus plasenta untuk menginfeksi bayi. Malaria juga meningkatkan risiko bayi lahir prematur yang dapat memperbesar risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Semakin rendah jumlah sel CD4, akan semakin besar risiko penularan HIV dari ibu ke bayi melalui pemberian air susu ibu (ASI). Sebuah studi menunjukkan bahwa ibu dengan CD4 kurang dari 200 memiliki risiko untuk menularkan HIV ke bayinya jauh lebih besar dibandingkan ibu dengan CD4 di atas 500. Risiko penularan HIV melalui pemberian ASI akan bertambah jika terdapat adanya masalah pada payudara ibu, seperti mastitis, abses, luka di puting payudara. Sebagian besar masalah payudara dapat dicegah dengan teknik menyusui yang baik. Konseling kepada ibu tentang cara menyusui yang baik dengan demikian dapat mengurangi risiko masalah-masalah payudara dan risiko penularan HIV. Risiko penularan HIV pasca persalinan akan menjadi berlipat (sekitar 30%), jika ibu terinfeksi HIV ketika sedang masa menyusui bayinya karena kadar HIV meningkat pesat pada saat tersebut (infeksi primer) yang bisa memperbesar risiko penularan HIV ke bayi. Dengan demikian, berbagai upaya harus dilakukan untuk mencegah terjadinya penularan HIV pada ibu yang sedang hamil dan menyusui, serta menjaga kondisi kesehatan dan nutrisinya selama masa menyusui. FAKTOR BAYI Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir rendah diduga lebih rentan untuk tertular HIV dikarenakan sistem organ tubuh bayi tersebut belum berkembang baik, seperti sistem kulit dan mukosa, dll. Sebuah studi di Tanzania menunjukkan bahwa bayi yang dilahirkan sebelum 34 minggu memiliki risiko tertular HIV yang lebih tinggi pada saat persalinan dan masa-masa awal kelahiran. Seorang bayi dari ibu HIV positif bisa jadi tetap HIV negatif selama masa kehamilan dan proses persalinan, tetapi mungkin akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI. HIV terdapat di dalam ASI, meskipun konsentrasinya jauh lebih kecil dibandingkan dengan HIV di dalam darah. Antara 10-20% bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV positif akan terinfeksi HIV melalui pemberian ASI (hingga 18 bulan atau lebih). Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi tingkat risiko penularan HIV melalui pemberian ASI, yaitu: Umur Bayi Risiko penularan melalui ASI akan lebih besar pada bayi yang baru lahir. Antara 50–70% dari semua penularan HIV melalui ASI terjadi pada usia enam bulan pertama bayi. Setelah tahun kedua umur bayi, risiko penularan menjadi lebih rendah. Luka di Mulut Bayi Bayi yang memiliki luka di mulutnya memiliki risiko untuk tertular HIV lebih besar ketika diberikan ASI. FAKTOR CARA PENULARAN Sebagian besar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat persalinan. Ketika proses persalinan, tekanan pada plasenta meningkat yang bisa menyebabkan terjadinya sedikit percampuran antara darah ibu dan darah bayi. Hal ini lebih sering terjadi jika plasenta meradang atau terinfeksi. Pada saat persalinan, bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan lahir. Kulit dari bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih mudah terinfeksi jika kontak dengan HIV. Bayi mungkin juga terinfeksi karena menelan darah ataupun lendir ibu. Semakin lama proses persalinan berlangsung, risiko penularan HIV dari ibu ke bayi juga semakin meningkat karena akan semakin lama terjadinya kontak antara bayi dengan darah dan lendir ibu. Ketuban pecah lebih dari empat jam sebelum persalinan akan meningkatkan risiko penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah kurang dari empat jam sebelum persalinan. Faktor lain yang kemungkinan meningkatkan risiko penularan selama proses persalinan adalah penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forseps, dan tindakan episiotomi. Bayi yang diberikan ASI eksklusif kemungkinan memiliki risiko terinfeksi HIV lebih rendah dibandingkan bayi yang mengkonsumsi makanan campuran (mixed feeding), yaitu tak hanya ASI tetapi juga susu formula dan makanan padat lainnya. Penelitian di Afrika Selatan menunjukkan bahwa bayi dari ibu HIV positif yang diberi ASI eksklusif selama tiga bulan memiliki risiko tertular HIV lebih rendah (14,6%) dibandingkan bayi yang mendapatkan makanan campuran, yaitu susu formula dan ASI (24,1%). Hal ini diperkirakan karena air dan makanan yang kurang bersih (terkontaminasi) akan merusak usus bayi yang mendapatkan makanan campuran, sehingga HIV dari ASI bisa masuk ke tubuh bayi. Semakin lama pemberian ASI, akan semakin besar kumulatif risiko penularan HIV dari ibu ke bayi. Pada usia 5 bulan pertama pemberian ASI diperkirakan risiko penularan sebesar 0,7% per bulan. Antara 6-12 bulan, risiko sebesar 0,5% per bulan; dan antara 13–24 bulan, risiko bertambah lagi sebesar 0,3% per bulan. Dengan demikian, memperpendek masa pemberian ASI dapat mengurangi risiko bayi terinfeksi HIV. | Masa Kehamilan | Masa Persalinan | Masa Menyusui | | Ibu baru terinfeksi HIV Ibu memiliki infeksi virus, bakteri, parasit (seperti malaria) Ibu memiliki infeksi menular seksual (IMS) Ibu menderita kekurangan gizi (akibat tak langsung) | Ibu baru terinfeksi HIV Ibu mengalami pecah ketuban lebih dari 4 jam sebelum persalinan Terdapat tindakan medis yang dapat meningkatkan kontak dengan darah ibu atau cairan tubuh ibu (seperti penggunaan elektrode pada kepala janin, penggunaan vakum atau forseps, dan episiotomi) Bayi merupakan anak pertama dari beberapa kali kelahiran Ibu memiliki khorioamnionitis (dari IMS yang tak diobati atau infeksi lainnya) | Ibu baru terinfeksi HIV Ibu memberikan ASI dalam periode yang lama Ibu memberikan makanan campuran (mixed feeding) untuk bayi Ibu memilki masalah pada payudara, seperti mastitis, abses, luka di puting payudara. Bayi memiliki luka di mulut | |