|
Donasi Anda untuk Program PMTCT |
|
|
|
Agenda Terbaru |
|
Sorry, no events to display
|
|
Statistik Pengunjung Sejak 08-08-2008 |
 | Hari ini | 100 |  | Kemarin | 86 |  | Minggu Lalu | 186 |  | Bulan Lalu | 664 |  | Semuanya | 72612 |
|
|
|
Laporan Pertemuan Ahli ART dan Infant Feeding |
|
|
|
|
Tuesday, 29 July 2008 |
|
Departemen Kesehatan bekerjasama dengan UNICEF melaksanakan pertemuan ahli mengenai info terkini tentang pemberian ART dan ARV profilaksis dan penatalaksanaan PMTCT pada HIV dan kasus ibu menyusui. Dihadiri oleh narasumber dari Durban Afrika Selatan (Prof Nigel Rollins) untuk berbagi pengalaman mengenai temuan terbaru dan juga pengalaman dalam penatalaksanaan HIV dan pemberian makanan pada bayi di negara lain.
| Sesi 1 | Update on evidence on post natal transmission and HIV free survival | | Penyaji | Prof. Nigel Rollins | | Catatan dari presentasi | | - Pada tiap region akan ada perbedaan pendekatan dalam menentukan apakah menyusui atau tidak. Afrika berbeda kondisinya dengan Indonesia. - Pada prinsipnya : semakin banyak menyusui akan semakin banyak memaparkan virus, - Pemberian ASI tidak eksklusif (Mixed Breast Feeding) akan meningkatkan transmisi sampai 2 kali lipat - Pemberian ASI yang digabung dengan makanan padat akan meningkatkan transmisi HIV sampai 10 kali lipat - Menyusui eksklusif akan mengurangi transmisi HIV sampai 2-10 kali lipat - Gangguan-gangguan pada payudara (seperti mastitis à biasanya dihubungkan dengan teknik menyusui yang salah atau tidak bagus) akan menyebabkan viral load HIV di dalam ASI meningkat - Tidak menyusui, menurut beberapa jurnal dihubungkan menjadi penyebab meningkatnya angka kesakitan dan kematian pada bayi (terutama pada kasus terinfeksi HIV) - Pemberian susu formula akan merubah permebilitas dinding usus sehingga akan mempermudah transmisi virus HIV - Dimungkinkan untuk menghentikan ASI eksklusif setelah bayi berumur 6 bulan, namun tetap akan menjadi penyebab tingginya angka kesakitan dan kematian yang tidak disebabkan oleh HIV - Belum maksimalnya konseling menyusui juga menjadi salah satu sebab rendahnya child survival - Banyak ibu yang kembali tidak menyusui ASI secara eksklusif meskipun telah dilakukan konseling menyusui dengan baik, hal ini dihubungkan dengan banyak faktor (sosial, stigma masyarakat, budaya, dll) - Menyusui eksklusif akan meningkatkan child survival pada bayi yang terinfeksi HIV | | Diskusi | | Mengapa menyusui eksklusif akan menyebabkan transmisi lebih kecil jika dibandingkan dengan menggunakan susu formula ? - Banyak ibu yang tidak baik dalam mempersiapkan susu formula - Sehingga akan menyebabkan susu formula yang dipersiapkan terkontaminasi oleh banyak bakteri Bagaimana mekanisme transmisi virus ke dalam usus ? - Belum diketahui pasti - Menyusui tidak eksklusif (mixed breast feeding) akan meningkatkan permeabilitas - Atau secara langsung akan merusak gap diantara sel-sel mukosa permukaan usus - Jika ada mastitis yang subklinis, virus tetap akan diproduksi di dalam duktus kelenjar mammae sehingga akan menyebabkan tingginya interleuikin di dalam ASI Ada perbedaan antara protap WHO 2000 dan 2006, explain ? - pada pegangan 2000 stop menyusui ketika berumur 4 bulan - pada pegangan 2006 stop menyusui ketika berumur 6 bulan, - namun perlu dilakukan evaluasi ulang ketika 6 bulan, apakah sarana pendukung (lingkungan, psikologis, sosial, cultural) masih tetap baik - Jika bagus lanjutkan konseling menyusui untuk terlus dilakukan perencanaan menyusui eksklusif - Kuncinya adalah pada konseling menyusui - Konseling menyusui sebaiknya dilakukan pada saat kunjungan ANC, sehingga pada setelah melahirkan ibu sudah punya keputusan yang kuat untuk menyusui atau tidak menyusui - Jadi pada ibu menyusui ada dua keputusan yang harus diambil. Keputusan pertama pada saat ANC, dan keputusan kedua harus diambil pada saat bayi berumur 6 bulan Ada budaya menambahkan sedikit air ke bayi setelah menyusui, bagaimana interferensinya ? Seringkali ibu hamil terlambat datang ke layanan kesehatan sehingga keputusan untuk melakukan konseling menjadi sangat sulit. - belum ada jawaban secara pasti - Namun kemungkinan tidak akanmenjadi penyebab mudahnya virus masuk melewati permukaan usus, karena kalau hanya plain water gap usus tidak melebar sehingga tidak menyebabkan permeabilitas usus meningkat - yang pasti jangan meng-interfere teknik menyusui dengan teknik lainnya - konseling memang membutuhkan waktu yang lama - terkadang konseling yang lama juga belum tentu membuahkan hasil yang baik - butuh pengalaman di negara kita untuk konseling dan kita bisa lihat apa yang terbaik untuk konseling menyusui | | Masukan dari peserta | | - Update evidence tentang post natal transmitting dan hiv free survival akan lebih bagus jika dibandingkan dengan Negara-negara maju tidak hanya dengan Negara Afrika (Sakkar-HSP) - Isu perempuan pengguna Napza sebaiknya dipikirkan ke dalam penatalaksanaan program PMTCT (Belinda – Stigma) - Lebih banyak penelitian supaya kita bisa berbicara keadaan indonesia, terutama penelitian dalam hal breastfeeding versus formula feeding, cesarean atau normal delivery, NVP single dose atau NVP 4 minggu, resustensi, dll (Caroline – Spiritia) - Rekomendasi dan saran dalam presentasi tergolong tidak terkini karena sudah dipblikasikan sejak tahun 2000 dan hasil-hasil penelitian yang dirujuk merupakan informasi yang juga non update. Pendapat penyaji agak berat sebelah karena hanya mengunggulkan breastfeeding semata tanpa menjelaskan keuntungan dari susu formula yang berdasarkan fakta juga banyak keunggulannya. (George – HSP) - Agar pada ANC ibu sudah dikonseling tentang infant feeding. Konseling tersebut termasuk untung rugi pemberian makanan bayi, terutama 6 bulan pertama (Yoko – IOM) | | Sesi 2 | Update on intervention to prevent breastfeeding transmission | | Penyaji | Prof. Nigel Rollins | | Catatan dari presentasi | | - Berbagai intervensi untuk mengurangi transmisi HIV melalui menyusui diantaranya : HAART, microbicide/pemanasan, micronutrien, passive imunisasi - Presentasi menunjukkan berbagai penelitian ART pada upaya menurunkan transmisi HIV à semua evidence penelitian menunjukkan penurunan pada tingkat transmisi - Sekali lagi ada faktor lain selain faktor medis (HAART) seperti tekanan keluarga dan ketersediaan sarana (misalnya air bersih) - Prevalensi diare berat dan angka kematian meningkat ketika seorang perempuan yang dalam HAART berhenti menyusui ketika bayi berumur 6 bulan. - Hanya hentikan jika kondisi AFASS sudah terpenuhi - Namun ibu dengan HAART dan pemberian NVP pada bayi akan secara signifikan mengurangi transmisi virus, - Sementara itu pemberian ASI esklusif sebaiknya terus dilakukan | | Diskusi | | Pleno dengan sesi 3 | | Masukan dari peserta | | - perlu dikonsultasikan dengan IDAI dan POGI, apakah bisa di adaptasi di Indonesia ? - Konselor yang terlatih perlu ditingkatkan (Jonni – FK UKI) - Agar layanan CD 4 diberikan secara gratis oleh pemerintah dalam kaitannya dengan penularan melalui breastfeeding (Yoko – IOM) - | | Sesi 3 | Pemberian ART dan profilaksis ARV serta penanganan PMTCT | | Penyaji | Prof. Zubairi Djoerban | | Catatan dari presentasi | | - Malaysia : 97,6% bumil di periksa HIV - Thailand : test dilakukan pada 627.412 bumil dari sebanyak 647.403 bumil yang datang ke ANC; terjadi penurunan prevalensi HIV pada ibu hamil sebanyak 91% - US : tes rutin HIV bagi semua bumil di 4 negara bagian pada 2004 - Indonesia : belum ada 10.000 ibu hamil yang diperiksa. YPI memeriksa 1623 bumil dengan prevalensi 0,5% - Diagnosa HIV pada bumil sering terlambat à perlukah kebijakan baru testing HIV ?? - Manfaat ARV pada anak dengan status HIV : penulatan ke bayi turun 74 %; - MTCT YPI : melakukan VCT untuk ibu hamil, 1217 konseling pra tes; 1061 tes HIV; 980 konseling pasca tes; 5 HIV positif - Manfaat ARV pada ibu hamil dengan HIV à menekan morbiditas dan mortalitas; menekan penularan; memperbaiki kualitas hidup - | | Diskusi (sesi 2 dan sesi 3) | | Bagaimana dengan perbedaan protap 2000 dan 2006, perbedaan antara menghentikan menyusui ketika 4 bulan atau 6 bulan - Data-data berdasarkan international concensus - Juga berdasarkan penelitian yang dapat dilihat pada website Konseling merupakan kunci utama dalam penanganan awal PMTCT. Saat ini kurang/tidak cukup konseling pada bumil Bagaimana dengan memulai penelitian pada negara kita? Bedakan antara HIV yang bergejala dan yang tidak bergejala Start treatment meskipun CD4 200 atau CD4 350 Nilai CD 4 200 atau CD4 350 hanya jika tersedia pemeriksaan CD4 Meningkatkan threeshold pemeriksaan menjadi CD4 350 konsekuensinya adalah akan mensasar lebih banyak lagi ibu hamil yang harus dilakukan intervensi | | Masukan dari peserta | | - Berdasarkan presentasi ini menunjukkan kepada kita bahwa insiden HIV sudah cukup besar namun tidak didukung oleh ketersediaan logistik, dana dsb. Maka mungkin memang diperlukan advokasi ke pemerintah, donor, dsb. Atau adanya dana khusus pengganti HIV (Sakkar – HSP) - Peningkatan/penambahan jumlah tempat untuk pelayanan PMTCT termasuk tes rutin bagi seluruh ibu hamil (Inang – KPAN) - Program menurunkan angka kematian ibu dan bayi harus ditambah pesannya yaitu : ”ibu melahirkan selamat, bayi sehat tidak terinfeksi HIV, keluarga sejahtera” (Inang – KPAN) - Ada upaya untuk menurunkan transmisi ibu ke anak, namun kurang konsisten dalam pelaksanaan program. Perlu keseriusan instansi terkait agar dapat menimbulkan keberhasilan program serupa di Afrika atau negara berkembang lainnya (Abraham – FK UKI) - Informasi lebih berimbang antara breast feeding dan formula feeding dimana masing-masing intervensi punya manfaat dan syarat yang harus dipenuhi agar mendapat hasil yang maksimal - Mendapat data dari daerah di luar jakarta (terutama daerah dengan insidensi tinggi) mellaui bidan saat penyaringan K1-K4 ibu hamil dengan pengiriman sampel ke puskesmas perawatan/RS rujukan/propinsi yang tidak dilengkapi alat lab untuk deteksi dini/skrining à pengunpulan sampel terintegrasi (Gunapriya – IOM) - Mengingat kenyataan kondisi geografis Indonesia perlu dipikirkan sistem kesehatan di bidang PMTCT yang bisa direalisasikan pada daerah yang secara geografis sangat sulit,misal papua (Yoko – IOM) - Agar lebih menggunakan penelitian yang telah indonesia lakukan à update data (Odon Bayu – Spiritia) - | | Sesi 4 | Maternal Health, HIV and infant survival | | Penyaji | Prof. Nigel Rollins | | Catatan dari presentasi | | - Kebutuhan nutrisi danmicronutrien selama proses laktasi meningkat 25% - Dibandingkan dengan perempuan yang tidak terinfeksi, perempuan yang terinfeksi akan lebih mudah terjadi penurunan berat badan pada saat menyusui. - Menyusui dalam jangka waktu lama akan menyebabkan penurunan jumlah CD4 pada ibu yang terinfeksi, namun tidak terjadi peningkatan angka kematian pada ibu yang menyusui - Keputusan seorang perempuan untuk menghentikan ASI tergantung kondisi ibu pada saat itu - jumlah CD4 berperan dalam penularan makin tinggi CD4 makin tidak menular - | | Diskusi | | - meneruskan menyusui akan menurunkan mortality - jika CD > 350 kemungkinan waktu menyusui akan lebih lama - jika CD4 < 200 anaknya kemungkinan meninggal meningkat jadi 3,5 x - jika ibunya mati, kemungkinan anak mati 4,1 x - jika ingin anaknya sehat dan hidup maka harus dimaintain nilai CD4 ibu harus terus tetap tinggi - Nigel comments : not fair to pay CD 4 padahal ART nya gratis | | Masukan dari peserta | | - Pelayanan konseling menyusui perlu diintegrasikan pada ANC (Anna-UNICEF) - Hasil penelitian pemberian ARV dan pemberian makanan bayi pada HIV di setiap kota di Indonesia dapat ditanyangkan atau dilampirkan secara konsisten dan berkesinambungan sehingga masyarakat dapat melihat sendiri betapa pentingnya pengobatan ARV dini dan pemberian makanan yang benar pada penderita HIV (Fitri – Muhamadiyah) - Dibutuhkan tenaga edukator/konselor dalam PMTCT di setiap prong à pencegahan à CST; melatih tenaga baru; meningkatkan pengetahuan edukator atau konselor yang sudah dilatih seperti konselor VCT atau Case Manajer (Yayasan Layak) - | | Sesi 5 | HIV dan pemberian makanan pada bayi | | Penyaji | Dr. Dian Basuki | | Catatan dari presentasi | | - Kendala AFASS : stigma masyarakat, ketrampilan dalam mengolah susu, kurangnya waktu untuk memberikan asupan, kurang biaya, keberlangsunganmakanan tersebut - Pilihan makanan bayipada ibu yang terindeksi HIV : susu formula komersial atau susu formula buatan rumah (susu hewan yang dimodifikasi atau susu evaporasi) - Perlu dipikirkan adanya spill over : peningkatan penggunaan susu formula di masyarakat - Kebijakan pemberian susu formula gratis pada ODHA jarus menjamin tidakterjadi spill over di masyarakat - Jika AFASS tidak terpenuhi harus menyusui eksklusif selama 3 bulan dan segera dihentikan jika persyaratan AFASS terpenuhi - Pilihan makanan bayi bagi ibu HIV positif tergantung pada status kesehatan dan situasi lokal dengan pengawasan dan konseling yang memadai - Ibu terinfeksi HIV dianjurkan menyusui eksklusif selama 6 bulan kecuali jika pengganti ASI memenuhi AFASS sebelumnya - Bila pengganti ASI mencapai AFASS, dianjurkan untuk tidak memberikan ASI - Bila sampai usia 6 bulan pengganti ASI belum AFASS, dianjurkan tetap memberi ASI dengan tambahan makanan pendamping, namun ibu dan bayi diperiksa secara rutin - Semua tenaga kesehatan harus tetap memantau, memberi konseling & dukungan bagi semua bayi yang berisiko terinfeksi HIV, apapun pilihan pemberian makanan baginya - Ibu dari bayi HIV + yang menyusu harus didorong untuk melanjutkan menyusui bayinya - Amandemen UU kesehatan (Bab XI, pasal 88) : setiap bayi berhak mendapatkan air susu ibu secara eksklusif selama 6 bulan kecuali jika terdapat kedaruratan medis. - Alternatif pemberian ASI pada bayi dengan ibuHIV positif : menyusui eksklusif dengan penghentian dini, ASI perah yang dipanaskan, ibu susu. - SEMUA pilihan cara pemberian makan bagi bayi dari Ibu HIV positif, memiliki potensi masalah (Kesehatan) lain di Indonesia - Setiap pilihan yang direkomendasikan, perlu disesuaikan dengan kondisi tiap keluarga (khususnya tentang caregiver, biaya ekstra, sanitasi, bahan bakar) - Program akan berhasil bila masyarakat setempat diberdayakan, sehingga program tersebut di-ADAPTASI menjadi Trend/Tradisi baru - | | Diskusi | | Dipanelkan setelah sesi 7 | | Masukan dari peserta | | - Harus ada team di dalam VCT (terintegrasi) dengan breast feeding konseling (Jeanne – P2ML) - Sentra laktasi harus lebih banyak melakukan pelatihan mengenai pemberian ASI pada HIV (+) kepada konselor dan kader kesehatan (Andung – IOM) - Rekomendasi IDAI tetap tidak memberikan ASI , namun rekomendasi tidak dapat digeneralisasi untuk seluruh Indonesia, tetapi rekomendasi utama tetap tidak memberikan ASI pada ibu HIV positif (Dyani – IDAI) - Persyaratan AFASS sulit dipenuhi di Indonesia, lebih memungkinkan untuk membantu ibu-ibu supaya berhasil menyusui secara eksklusif (Anna – UNICEF) - Ada info tentang upaya yang sudah dilakukan untuk meningkatkan ASI. Cuma hasilnya masih 63%. Bisakah ditingkatkan ? (Abraham – FK UKI) - Melengkapi tenaga kesehatan dengan pedoman ARV danjenis makanan bayi dan susu formula rumah tangga yang dapat diterapkan di daerah. Juga dengan peningkatan kualitas konseling tentang breast feeding (Gunapriya – IOM) - Re-empowering fungsi posyandu terutama untuk Bumil dengan HIV (Yoko – IOM) - | | Sesi 6 | Experiences from Africa on HIV infant feeding and early infant testing | | Penyaji | Prof. Nigel Rollins | | Catatan dari presentasi | | - Umumnya tenaga kesehatan tidak mampu untuk memprediksi kemungkinan transmisi sebagai resiko dari menyusui - Meskipun sudah ada pelatihan PMTCT, tapi effect nya tidak banyak - Pemegang program secara nasional juga merasa kurang yakin dengan kebijakan pemberian makanan bayi pada HIV positif - Perlu dipikirkan antara pemilihan intervensi yang efektif dengan resiko yang akan ditimbulkan - Kedua faktir di atas sangat ditentukan oleh sistem kesehatan yang terbentuk - Kuncinya adalah pada : ”terbentuknya sistem kesehatan” - Ibu menyusui perlu membuat keputusanyang tepat terhadap dirinya sendiri (mengetahui kondisi sendiri) - Sistem kesehatan harus memprioritaskan pada kesehatan ibu dan mengidentifikasi resiko terbesar pada pilihan yang akan diambil ibu menyusui - Peran oemerintah adalah pada tataran pengembangan dan menjamin keberlangsungan program - | | Diskusi | | Dipanelkan setelah sesi 7 | | Masukan dari peserta | | - Perlu pelatihan khusus untuk pelaksanaan PMTCT breast feeding (Jeanne – P2ML) - Presentasi materi tentang breastfeeding dan formula feeding cukup obyektif dalam hal keunggulan dan keterbatasan, tapi berbagai kondisi dan intervensi yang melatar belakangi semua informasi tersebut tidak dijelaskan secara lengkap dan rinci sehingga tidak perlu ada pernyataan sikap dari ututsan IDAI tentang formula feeding sebagai pilihan utama dibandingkan dengan breastfeeding karena masing-masing akan memberi hasil yang baik apabila mengikuti persyaratan dan kondidi yang ditetapkan (George – HSP) - Akses ARV agar dimudahkan secara nasional (Yoko –IOM) | | Sesi 7 | Discussion on implication for policy and operational guidelines | | Penyaji | Prof. Nigel Rollins | | Catatan dari presentasi | | - Indonesia mempunyai multiple epidemic yang tentunya juga akan berdampak pada perbedaan angka IMR pada masing-masing kelompok epidemi atau bahkan pada daerah-daear tertentu (misalnya papua) - Laporan UNDP : Diare karena tidak adanya sarana air bersih akan menyebabkan angka kematian pada anak-anak lima kali lebih tinggi dibandingkan HIV - Pemberian makanan bayi yang paling tepat adalah dengan melihat kondisi individual masing-masing ibu menyusui (termasuk kondisi kesehatan dan kondisi sosial) - Menyusui eksklusif harus dilakukan sampai 6 bulan kecuali jika AFASS telah tersedia - Kebijakan dan budgetnasional harus duprioritaskan untuk mempromosikan dan mensupervisi kebijakan menyusui sebagai bagian dari strategi pengurangan angka kematian bayi - Setiap usaha harus ditargetkan kepada ibu dengan nilai CD4 yang rendah - Tenaga kesehatan perlu mendapatakan pelatihan berkaitan dengan menyusui - Perempuan dengan HIV yang memutuskan untuk menyusui harus mendapatkan dukungan nutrisi tambahan - Prioritas untuk mengetahui status HIV pada bumil dengan maksimalkan sarana ANC, stay negatif, konseling menyusui, mengidentifikasi nilai CD4, - Perlu dipikrikan untuk melakukan surveillance pada bumil, penggratisan CD4, Diagnosa dini pada bayi, penggabungan dengan program lain (TB dan IDU), | | Diskusi (gabungan dari sesi 5,6,7) | | IDAI setuju dengan pemberian ASI tapi tidak untuk ibu dengan HIV positif. Rekomendasi IDAI melihat pada kemungkinan penularan yang masih sebesar 12%, pemerintah harus menyediakan anggaran lebih untuk meng cover yang 12% ini, Seberapa besar keberhasilan pelatihan menyusui ? Ada pengalaman TS di Jayapura yang ternyata juga berhasil dengan formula feeding. Tujuan pengunaan AZT adalah untuk : - menurunkan transmisi HIV ke bayi - menurunkan resistensi NVP Jika formula feeding yang dilakukan tidak sesuai, juga akan menyebabkan tingginya angka kematian Rekomendasi utama adalah tetap dikembalikan kepada pilihan terbaik dari masing-masing kondisi Integrasi layanan kesehatan sangat pentign disini Pengalaman di Thailand (Chawalit) Memulai PMTCT 1995 dengan menggunakan AZT single dose Pada tahun 1997 sebanyak 80% perempuan hamil terjangkau program ini Tidak ada standar untuk operasi sesra (hanya atas indikasi medis saja) Kuncinya adalah : Adanya komitmen politis, tingginya angka cakupan ARV, tingginya angka cakupan VCT dan adanya dukungan terhadap perubahan SOP. Saran : Peran Puskesmas sebaiknya ditingkatkan, kebijakan distribusi ARV di Puskesmas perlu mulai dipikirkan Desain program harus berbasis pada pasien dan tidak berbasis pada penyedia layanan (tenaga kesehatan) Bagaimana dengan pemakai methadone tapi hamil? Methadone aman untuk ibu hamil Dari Bu Naf Akan mengusahakan ART di Puskesmas Akan mulai mengusakan dosis ART untuk pediatrik Akan mengusahakan sistem yang terintegrasi antara community system strenghtening dan public health system strenghtening Klarifikasi dari IDAI Tidak menyusui adalah rekomendasi utama, tapi tidak menutup kemungkinan untuk melakukan menyusui menurut kondisi ibu Meminta kepada pemerintah untuk menambah anggaran belanjanya Menyusui eksklusif seharusnya merupakan bagian dari pelayanan ANC (hasil diskusi dengan dr Lukman) Dari Bu Naf Akan mengusahakan penambahan jumlah konselor dan peningkatan mutu konselor yang ada dan yanga kan dilatih Perlu dipikirkan untuk melatih konselor untuk : - konseling nutrisi - konseling kontrasespsi - konseling pemilihan persalinan Dari Dr. Dasriati Pengetahuan PMTCT sebenarnya sudah masuk ke dalam kurikulum pelatihan konselor, hanya mungkin perlu dilakukan tindak lanjut pelatihan dengan menpertahankan kualitas konselor, karena latar belakang konselor yang berbeda-beda Konselor membutuhkan support yang terus menerus dan dukungan kualitas yang juga terus menerus. | | Masukan dari peserta | | - Harus ada kesamaan informasi yang tepat dan jelas agar tidak terjadi miskomunikasi - Harus ada upaya tegas terhadap : penyusunan dan pembaharuan pedoman, pelatihan dan pengupahan konselor serta pemberdayaan puskesmas (chris green – Spiritia) - Bagaimana mempengaruhi rekomendasi IDAI untuk PASI dan POGI untuk seksio (Chris Green – Spiritia) - Adanya layanan integrasi untukmemadukan VCT, CST dan PMTCT untuk memudahkan akses pelayanan (Yout – Depkes) - Lebih banyak kerjasama dengan pihak terkait misal sentra laktasi, ikatan bidan, dll (Caroline – Spiritia) - Berdasarkan bukti ilmiah terbaru, maka sudah saatnya kita harus merevisi SOP, guidelines yang menyangkut PMTCT, misalnya soal pemberian ASI eksklusif atau PASI (Abraham – FK UKI) - Perlu adanya informasi yang mendalam terhadap dampak ASI pada bayi dan ibu HIV; tingkatkan kesadaran para dokter untuk update terus pengetahuannya sehingga dapat memberikan informasi yang benara kepada pasien; dibentuk lembaga konsultasi mengenai dampak HIV dari ibu ke bayi; pelatihan yan berkesinambungan untuk para konselor; pembuatan modul sederhana yang dapat dimengerti oleh semua pihak (Pitut – PP Aisyiah) - Kebijakan Depkes mengenai PMTCT perlu ditinjau kembali dengan memperhatikan hasilpertemuan ini, antara lain mengenai konseling dan testing, penyediaan pemeriksaan CD4, pemberian ASI, dll. Aktifkan panel ahli/pokja untuk mengorganisir mengenai kebijakan baru tersebut dan mengikutsertakan semua stakeholder (IDAI, POGI, Depkes, KPA, UNICEF, organisasi ODHA – IPPI dll) (Suriadi – KPAN) - Perlu mendekatkan posyandu ke msyarakat agar mudah dijangkau, seperti melatih petugas puskesmas untuk pemberian ARV; Adanya dukungan dana terutama bagi ibu HIV positif untuk tes CD4 secara berkala (Yayasan Layak) - Perlu standard guideline untuk PMTCT (Odon Bayu – Spiritia) | | Wrap Up (Dr. Lukman) | - Rekomendasi akan bergantung kepada kondisi ibu (masukan dari Nigel)
- Perlu dikonsultasikan dengan organisasi profesi apakah apakah akan melakukan ;
- prioritas pada menyusui eksklusif baru kemudian susu formula (rekomendasi dari Bu Naf) - prioritas pada susu formula baru kemudia asi eksklusif (rekomendasi dari IDAI) - Perlu penguatan atas logistik ARV sebagai konsekuensi dari peningkatan program PMTCT
- Juga perlu memikirkan tentang safe delivery sebagai bagian dari program
| |
|
|
|
Hubungi Dr Lukman |
|
  |
|
Hubungi Dr Ilhamy |
|
  |
|
Hubungi Dr Bagus |
|
  |
|
Hubungi Dr. Rudi |
|
  |
|
Didukung Oleh : |
 | | UNICEF |
 | | Depkes RI |
 | | WHO |
 | | KPA Nasional | |
|